Lullaby

My Picture

I'm short girl who has short hair and glasses. I'm fourteen going on fifteen years old. I live at small city in Indonesia. I love reading, eating, and ice cream. Leave a greeting in my chat box. Simple, unique, and weird.

More about me»

Huah! I miss you so much my blog...

Aku datang kemari dengan membawa berita baik dan berita buruk.. Mau yang mana coba?

Okay, we start from the good news. Akhirnya, sekolahku akan mengadakan kemah besar pada tanggal 10, 11, 12 November 2011. Setelah dua tahun menanti, akhirnya diadakan juga kemahnya. Dulu waktu kelas satu denger berita mau diadain kemah seneng banget. Sampe jingkrak-jingkrak sendiri, bahkan group udah dibentuk, pensi udah dipikir, peralatan apa aja yang harus dibawa, yel-yel udah bikin. Ehh... gak taunya kemahnya gak jadi. Tapi, sekarang kembali berjingkrak-jingkrak lagi!!! Sebenernya sempet ngerasa males sih harus nyiapin ini itu, bawa ini itu, dll. Tapi, ambil positifnya aja deh.. Ngelihat daftar kegiatannya yah seperti pada umumnya aja deh... Padahal pingin banget kayak yang diceritain temanku. Harus mengelilingi sekolahan berdua bersama temannya malam-malam. But, hellooo....!! kemahku tidak di sekolah.. Tapi, di bumi perkemahan yang berarti di alam terbuka. Mau kemana aja kita kalau ada kegiatan itu??
Jadi keinget waktu semasa SD. Kemahnya di halaman sekolah. Yang gak serunya jaraknya itu lhoo... Jarak rumah dan SD aja cuman sekitar 20 m. Gak seru banget kan..! Terus karena waktu pengarahan malah asyik ngobrol sendiri jadi gak denger kalau makan sore itu bawa sendiri-sendiri. Waktu itu cuman aku dan salah seorang temanku saja yang gak membawa makan sore. Anak-anak yang lainnya pada bawa bekal kalau gak gitu ya orang tuanya yang ngaterin. Nasibku pun tidak beruntung. Orang tua gak dateng, duit jatuh gak tau dimana gara-gara saku bolong. Yaahh... nasib deh. Mau ngambil dirumah juga gak boleh keluar pagar sama pembinanya. Nekat-nekat palingan malakin jajan adik kelas sama temen-temen. Hehehehe...

And the bad news is one of my friend in the class will move at Surabaya. Hiks... hiks...hiks...  Pagi tadi sungguh pagi yang menyedihkan bagi kelasku 8A. Kelasku dibanjiri dengan berliter-liter air mata yang dikeluarkan oleh kami semua. Yolla, temanku akan melanjutkan sekolahnya ke Surabaya untuk meraih masa depan yang sudah ia rencanakan sebelumnya. Dan dengan ini 8A pun kehilangan satu anggota yang berharga.. Waktu perpisahan tadi pun kami bernostalgia bersama dan saling bermaafan pada kesalahan masa lampau *tentunya masih sambil menangis* Dan tertawa mengingat kejadian yang lucu *tentunya sambil ketawa* Nah lho? Gak jelaskan? 2 menit yang lalu pada hujan lebat air mata 2 menit kemuadian udah pada ketawa ketiwi bareng?. Bingung kan? Khususnya ini terjadi pada cewek. Makanya untuk para cowok, cewek itu sulit dimengerti.



Yap, that's her. Yollavenda M.A. She was the Captain Class when we in the seventh grade. As the leader in the class, she was really cared with the other members. Selalu menyumbangkan ide pikirannya yang cemerlang dan berani menanggung resiko. Kami semua (anak 8A) minta maaf jika ada kesalahan yang membuat jengkel atau marah. Pendam saja semua kenangan buruk yang ada, ingatlah kenangan terbaik yang pernah kita lalui bersama. Jaga diri baik-baik disana. Semoga kamu bisa menggapai impian yang telah kamu rencanakan dan inginkan. We'll always remember and miss you... Please, don't forget us..
Semoga kenang-kenangan yang kami berikan bisa selalu mengingatkanmu kepada kita semua..
Ok... Ini bukan pertama kalinya aku disebut anak jutek, cuek, blak-blakkan, galak, terlalu percaya diri, dan sombong. Kok kelihatannya aku gak ada bagus-bagusnya gitu ya? Bahkan saudaraku sendiri sempat menjaga jarak dariku agar gak kena semprot (omelanku). Yaahh... jangan salahkan aku kalau kena semprotku jika dekat aku, salahnya sendiri jailin aku. Bukannya aku anaknya gak seru, tapi ya siapa juga yang nyuruh jailin aku saat aku lagi capek. Namanya juga anak sekolahan yang pastinya banyak tugas, kegiatan, penilain ini dan itu secara berkelompok yang mengharuskan kita untuk kerja kelompok bersama, belum lagi mau ulangan mid semester. Hah... kurang satu... Pastinya selalu kena omelan orang tua di rumah. Jadi deh pusing kuadrat.

Well, aku gak bakal marah sama orang yang menyebutku cewek cuek dan jutek, karena aku memang sering dibilang gitu. Bilangnya pun bukan di belakangku aja, sempat juga ada yang terang-terangan bilangnya di depanku. And because of that, I have enemies. Banyak orang yang gak suka sama sifatku yang cuek dan jutek. Bahkan orang yang baru kenal aku aja udah gak terlalu suka denganku.

Aku masih heran sama kebanyakan orang. Jelas-jelas banyak yang bilang "Don't judge a book from the cover" tapi tetap saja mereka langsung menilai orang dari luarnya. Tau kalau aku bermuka cuek dan jutek langsung deh mereka menghindar. Mereka gak tau apa yang ada di dalam diriku sebenarnya. Mereka langsung menimbang untuk berteman atau tidak ketika baru melihatnya. Tapi, ketika persaingan dimulai... Aku menunjukkan hasil yang lebih dari mereka, aku mempunyai ability yang lebih dari mereka, dan mereka tahu tentang latar belakangku dan orang tuaku. Mereka baru mendekatiku.. Memintaku untuk berteman dengannya.. Teman bisa dibeli, tapi teman yang sesungguhnya tidak akan bisa dibeli walaupun kau membayar berbatang-batang emas. Teman yang baik dan menerimamu apa adanya pun sangat susah dicari, bahkan bisa bertahun-tahun kau mencarinya. Dan mungkin saja dia ada disekitarmu ketika kau tak menyadarinya, kau harus mengamati orang-orang disekitarmu dengan baik.

Ada satu pengalaman yang membuatku sakit hati dan benar-benar marah. Bukan hanya aku, sahabatku pun juga. Aku mungkin bisa terima dibilang cuek, jutek, dll. Tapi, aku tidak terima jika dibilang sombong oleh teman SDku yang sudah bersamaku 6 tahun. Dia berbeda sekolah denganku. Cerita ini bermula ketika aku dan sahabatku pulang sekolah bersama naik sepeda. Ketika itu kami melewati sebuah warung kecil yang biasanya ramai dikunjungi anak-anak dari berbagai sekolah ketika pulang sekolah. Ketika lewat disana kami bertemu dengan kakak kelas kami yang sedang minum es di warung sana. Sedangkan temanku SD berada tidak terlalu jauh setelah warung itu. Sebagai adik kelas yang baik dan hormat.. Kami menyapa kakak kelas kami terlebih dahulu. Dan kami juga sudah tahu bahwa ada teman SD kami disana. Karena kami melewati kakak kelas kami terlebih dahulu ya pastinya kami menyapa kakak kelas kami dahulu. Baru selanjutnya kami menyapa teman SD. Ketika kami hendak menyapanya, dia sudah terlebih dahulu menyapa kami. "Ocha...! Ika...! Som....bong" Katanya dengan mengucapkan kata "sombong" dengan pelan.. Tapi karena aku berpapasan dengan jarak tidak ada 30 cm disampingnya, pastinya aku mendengar kata "sombong" yang ia ucapkan.

Ketika aku mendengar kata itu.. Aku memelankan laju sepedaku dan karena sahabatku berada dibelakangku mau gak mau ia juga memelankan sepedanya. Aku pun hendak memberhentikan sepedaku dan menengokkan kepalaku kearahnya. Dengan wajah yang kubuat sengit aku pun berkata "Hah? Sombong katamu?! Kamu bilang kami sombong?!" dengan nada emosi dan sinis. Sahabatku pun menimpalinya "Yang bener kita sombong !? Bukannya kamu ya! Tiap disapa sama anak-anak yang lain pura-pura gak kenal?" tak kalah sengitnya dari nadaku. "Hah! Tau tuh anak." kataku setengah teriak sambil melanjutkan pulang. Banyak anak yang melihat kami. Namun, aku tak melihat wajahnya. Pastinya dia shock karena kami berdua mengatakannya agak lantang.

Ok, apa yang menguatkan alasannya kalau kami sombong? Aku pun sempat bertanya seperti kepada sahabatku. Ia menjawab bahwa ia bila bertemu dengannya selalu menyapa, tersenyum, dll. Ah... berarti bukan Ika yang dibilangnya sombong. Itu berarti aku. Tapi, apa yang perbuat? Aku sering tersenyum kepadanya ketika bertemu dengannya...

Ahh... sudah lah... Biar dia sadar sendiri kalau yang perlu ia bilang sombong itu hatinya sendiri. Bukan kami...

Oke, cukup untuk cerita ini. Amanatnya adalah... Jangan menilai orang dari luarnya serta interupsi diri kalian sendiri sebelum kalian mengejek orang lain...
Ok, I miss you blog...!!! Lama gak posting karena gak punya inspirasi dan waktu untuk diceritain. Dan seseorang memberiku sebuah inspirasi. Walaupun kejadiannya udah agak-agak lupa. Tanpa ba bi bu lagi langsung aja deh...

Seorang cowok mengirimiku sebuah pesan. Seperti kebanyakan pesan yang aku terima, yang kebanyakan isinya memintaku untuk berkenalan. Sering banget berpikir untuk apa aku perlu berkenalan? Kalau mereka punya nomorku otomatis juga mereka kenal denganku. Tapi, cowok ini beda. Bahasa yang ia gunakan pun beda dari cowok kebanyakan. Oh, ya... Kenapa aku tau kalau dia cowok? Karena salah satu teman sekelasku sudah memberi tahuku bahwa salah satu cowok dari kelas lain meminta nomorku. Sempat aku memintanya untuk merahasiakan nomorku dari cowok itu. Tapi, entah bagaimana caranya dan lewat siapa.. cowok itu pun berhasil mendapatkan nomorku. Temanku yang tadi memberi tahuku pun mengirimiku sms dan bilang bahwa cowok itu sudah mendapatkan nomorku dari ketua kelasku. Aku pun langsung berpikir bahwa cowok ini sungguh mempunyai banyak teman dari kelasku, mungkin tidak hanya dari kelasku pasti dari berbagai kelas. Aku pun penasaran dengan cowok itu dan akan sabar menunggu pesan darinya.

Sore itu aku pergi ke supermarket dengan ibuku. Aku mencari bahan untuk Tata Boga hari besok. Aku berbelanja sendiri karena ibuku lebih tertarik melihat-lihat baju di lantai atas. Dan nada twinkle-twinkle little star dari Hand phoneku pun berbunyi ketika aku mimilih bahan. Karena suaranya cukup keras, banyak orang yang menoleh melihatku. Entah karena suaranya yang keras atau nada deringnya yang cocok untuk anak kecil? Aku tersenyum melihat pesan itu. Inilah pesan yang kutunggu-tunggu, pesan dari cowok itu. Aku cemberut melihat pesan itu. Pesan itu mengajakku berkenalan. Dalam hati aku menggerutu kesal "Kenapa sih banyak cowok yang berbasa basi mengajak kenalan saat pertama sms aku? Kenapa gak tanya yang lain aja?" Saat akan membalas pesan itu terbesit ide untuk menjailinya dengan kata-kata judes dan cuek. Ahh.... bahasa gaulnya sih sok jual mahal. Saat berkirim pesan dengannya menggunakan kata-kata judes dan cuek, aku menjelajahi situs jejaringan sosial dan mencari identitasnya lewat Hand Phone. Aku kaget melihat Fotonya. Cowok ini.... sebelumnya aku selalu mengira cowok ini adalah kakak kelasku. Ternyata dia setingkat denganku. Setelah beberapa kali berkirim pesan dan tentunya aku masih menggunakan kata-kata judes dan cuek dia sempat terbawa emosi. Aku senang berhasil membuatnya emosi. Dan aku pun menyadarinya... cowok ini sungguh menyenangkan walau pun sudah kubuat dia emosi. Aku ingin membuatnya benar-benar jengkel.. Aku ingin melihat bagaimana reaksinya ketika aku bersikap cuek dan tidak membalas pesannya. Sesudah berbelanja aku pun segera pulang. Aku beberapa kali mendengar bunyi Hand Phoneku. Aku tidak bisa membuka Hand Phoneku sekarang karena aku mambawa barang-barang belanjaan.

Sampai dirumah aku baru bisa mengecek Hand Phoneku. Beberapa pesan dari teman-temanku. Dan beberapa lagi dari dia.... Ahh... tentunya masa jailku untuk tetap cuek kepadanya masih berlaku. Aku ingin melihat reaksinya beberapa hari lagi...

Beberapa hari kemudian...

Aku menanti pesan darinya. Tapi, tidak ada satu pun darinya.. Apakah aku membuatnya marah? Apakah aku menyinggung perasaannya dengan kelakuan itu? Aku pernah bersimpangan dengannya... Dan dia terlihat tidak respect. Aku pun tidak menceritakan perasaan ini kepada siapa pun. Oh, No... aku menyinggung perasaannya... Tapi, masa dia tersinggung? Tidak mungkin.. Dia anak yang menyenangkan... Aku akan tunggu pesannya lagi...

Beberapa bulan kemudian....

Sial! Dia pasti benar-benar tersinggung dengan perlakuanku. Aku terus menunggu pesan darinya. Tapi, tidak ada satu pesan pun darinya. Aku harus meminta maaf kepadanya... Aku harus menceritakan bahwa aku hanya berniat menjailinya dan bercanda saja dengan kata-kata jutekku. Tapi, aku gak berani kirim pesan langsung kepadanya.

Disaat aku berpikir pun teman sekelasku mengirimiku pesan. Kami saling berkirim pesan dan lama kelamaan perbincangan ini menghubung ke dia. Aku tau ini waktu yang tepat untuk mimanta temanku menyampaikan pesan kepadanya untuk meminta maaf atas semua perlakuanku kepadanya. Syukurlah... temanku mau menyampaikannya. Aku lega,...

Keesokan harinya...

Saat berlatih tari bersama teman-teman, aku merasakan getaran di sakuku, tempatku mengantongi HandPhoneku. Karena lelah dan pusing aku mengambil HandPhoneku dengan kasar dan membacanya. Aku pun tersenyum. Ahh... anak ini akhirnya mengirimiku pesan juga... Sempat canggung sih saat awal-awal. Setelah berbasa-basi kami pun tidak canggung lagi. Dan mulai sekarang aku gak akan menjailinya sekejam itu lagi...


Oke, inilah cerita yang aku ingat. Jadi amanatnya yaitu Jangan Sok Jual Mahal.... hehehehe... Gak mutu amat amanatnya ya.... Tapi, begitulah intinya...

Don't get close to me, but do not go far away.

FemInd Bloggers

Chat With Me

Search This Blog

Follow Me